Penjualan Minyak Rusia Tetap Moncer Selama Perang Ukraina, Raup Rp 962 T


AkurasiNTB, Jakarta - Rusia masih meraup pendapatan fantastis dari penjualan bahan bakar minyak dan gas selama perang dengan Ukraina. Sejumlah negara termasuk Uni Eropa dan China membayar sekitar €63 miliar atau setara Rp 962 triliun untuk bahan bakar fosil Rusia dalam dua bulan terakhir.

Menurut pelacak terperinci pengiriman minyak, gas dan batubara Rusia dan ekspor pipa oleh Pusat Penelitian Energi dan Udara Bersih (CREA), pendapatan Rusia dari minyak dan gas jauh lebih tinggi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Negara terbesar pengimpor migas Rusia adalah Jerman yang membayar sekitar € 9,1 miliar dan Italia membayar € 6,9 miliar.

Kira Vanke, kepala Pusat Iklim dan Kebijakan Luar Negeri di Dewan Hubungan Luar Negeri Jerman mengkritik pemerintahnya. Vanke mengatakan penggunaan bahan bakar fosil yang terus menerus, membuat Jerman tak bisa memutuskan impor dari Rusia yang secara terang-terangan melanggar hukum internasional. Dia menganjurkan Jerman meningkatkan penggunaan energi terbarukan dari pada bahan bakar fosil.

Data CREA juga menunjukkan bahwa China membeli bahan bakar fosil sebesar € 6,7 miliar dari Rusia, diikuti oleh Belanda dengan € 5,6 miliar, Turki € 4,1 miliar dan Prancis € 3,8 miliar. Sekitar 71 persen dari total pendapatan Rusia di sektor minyak, gas dan batu bara disalurkan ke negara Uni Eropa dengan nilai € 44 miliar.

Menurut Lauri Myllyvirta, seorang analis utama di CREA, ekspor bahan bakar fosil adalah pendorong utama rezim Putin dan banyak negara nakal lainnya. “Impor energi yang berkelanjutan adalah celah utama dalam sanksi yang dikenakan pada Rusia. Setiap orang yang membeli bahan bakar fosil ini terlibat dalam pelanggaran mengerikan terhadap hukum internasional yang dilakukan oleh militer Rusia," katanya.

"Kami mendorong semua pemerintah dan pembeli untuk mengakhiri pembelian dari Rusia dan mengenakan tarif hukuman selama masa transisi apa pun," ujarnya.

Penelitian CREA juga menunjukkan bahwa bahkan sanksi terbatas berpengaruh karena pengiriman minyak mentah dari Rusia ke pelabuhan asing yang turun 20 persen dalam tiga minggu pertama April. CREA membandingkan dengan periode Januari-Februari sebelum dimulainya perang.

Rusia juga mencatat kenaikan pengiriman minyak ke India dan Mesir. Namun nilai ekspor itu tak cukup untuk menutupi anjloknya permintaan dari Eropa.

"Perang Rusia Ukraina sebagian besar didanai oleh ekspor batu bara, minyak dan gas agresor. Sumber daya yang sama adalah penyebab utama bahaya global lainnya - perubahan iklim. Ini adalah momen bersejarah," ujar Anna Ackermann, spesialis kebijakan iklim dan energi, dan anggota pendiri Pusat LSM Ukraina untuk Ecoaction Inisiatif Lingkungan.