Sumbawa Barat – Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disparpora) Kabupaten Sumbawa Barat memastikan seluruh persiapan pembangunan fasilitas jogging track atau lintasan lari di Kecamatan Brang Ene telah rampung. Proyek yang menjadi bagian dari pengembangan pariwisata kerakyatan ini kini tinggal memasuki tahapan sosialisasi kepada masyarakat.
Kepala Disparpora KSB, Nurdin Rahman, mengatakan bahwa dokumen perencanaan pembangunan telah selesai disusun, mulai dari masterplan hingga Detail Engineering Design (DED). Dokumen tersebut disiapkan oleh Dinas Pekerjaan Umum sebagai acuan dalam pelaksanaan pembangunan.
“Masterplan dan DED dari Dinas PU sudah selesai. Di kami juga anggarannya sudah tersedia lewat Perkada awal tahun sekitar Rp6 miliar,” ujar Nurdin Rahman saat dikonfirmasi media, Kamis (19/02/2026).
Menurutnya, setelah seluruh tahapan administrasi dan perencanaan selesai, pihaknya akan segera memulai proses sosialisasi kepada masyarakat di wilayah yang akan dilalui lintasan jogging track tersebut. Hal ini penting mengingat proyek tersebut melintasi beberapa desa di Kecamatan Brang Ene.
Nurdin menjelaskan, lintasan lari yang direncanakan memiliki panjang sekitar 5 kilometer dan akan melewati kawasan persawahan, pinggiran hutan hingga aliran sungai. Konsep ini dirancang untuk menghadirkan pengalaman wisata alam bagi pengunjung yang ingin berolahraga sekaligus menikmati panorama pedesaan.
Empat desa yang akan dilalui jalur tersebut yakni Desa Manemeng, Desa Mura, Desa Kalimantong, dan Desa Mujahidin. Oleh karena itu, Disparpora berencana melakukan koordinasi dengan pihak kecamatan guna mempersiapkan agenda sosialisasi kepada masyarakat, khususnya para petani yang lahannya akan dilewati jalur lintasan.
“Pekan depan kami akan koordinasi dengan Camat untuk persiapan agenda sosialisasi kami nantinya,” katanya.
Dalam desain yang telah disusun, lintasan jogging track yang melewati area persawahan akan mengikuti jalur pematang sawah yang sudah ada. Lintasan tersebut direncanakan memiliki lebar sekitar 2 meter sehingga pengunjung dapat berjalan atau berlari dengan nyaman sambil menikmati pemandangan alam Brang Ene.
Tidak hanya menjadi jalur olahraga, lintasan ini juga akan dilengkapi sejumlah fasilitas pendukung. Di beberapa titik akan dibangun shelter atau check point yang dapat dimanfaatkan pengunjung untuk beristirahat.
Di lokasi-lokasi tersebut juga akan disiapkan spot foto serta stand kuliner yang nantinya dikelola oleh masyarakat setempat. Hal ini diharapkan dapat membuka peluang usaha baru bagi warga di sekitar kawasan wisata tersebut.
“Seperti yang sudah disampaikan Pak Bupati pada beberapa kesempatan, nanti kita buat shelter atau check point di sepanjang lintasan. Di titik-titik tersebut nantinya akan ditempatkan spot foto dan stand kuliner yang ditempati warga menjajakan makanan tradisional,” paparnya.
Terkait pengelolaan kawasan wisata jogging track tersebut, Disparpora masih merumuskan konsep yang paling tepat. Namun, pengelolaannya direncanakan melibatkan langsung desa-desa yang wilayahnya dilalui lintasan tersebut.
Keempat desa nantinya diarahkan untuk membentuk satu Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Bersama. Melalui BUMDes tersebut, pengelolaan destinasi wisata jogging track Brang Ene diharapkan dapat memberikan manfaat ekonomi langsung kepada masyarakat.
Nurdin menambahkan, konsep pengelolaan ini dapat mengadopsi model wisata hijau yang diterapkan di Desa Bilebante, Lombok Tengah, yang berhasil mengembangkan pariwisata berbasis desa.
“Kita bisa mengadopsi wisata hijau Bilebante di Lombok Tengah. Di sana dikelola oleh BUMDes dan fasilitasnya disediakan desa. Kita kan oleh pemerintah kabupaten, itu yang beda. Tapi kami kira tetap bisa dikelola BUMDes Bersama,” pungkasnya. (Hen).

