DLH KSB Ubah Sistem TPA Batu Putih dari Open Dumping ke Control Landfill, Kondisi Kini Lebih Tertata

Taliwang, Sumbawa Barat – Upaya serius Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) dalam membenahi Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Batu Putih, Kecamatan Taliwang, terus menunjukkan hasil positif. Salah satu langkah strategis yang kini dilakukan adalah perubahan sistem pengelolaan sampah dari Open Dumping menjadi sistem control landfill yang mulai berjalan sejak Mei 2025 lalu.

Perubahan tersebut dilakukan sebagai bentuk komitmen pemerintah daerah melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) dalam menekan potensi pencemaran lingkungan sekaligus memperpanjang usia operasional TPA Batu Putih yang sempat mengalami kerusakan cukup parah.

Kepala UPTD Persampahan DLH KSB, Saiful Muslimin, SE, menjelaskan bahwa perubahan sistem ini menjadi solusi yang paling realistis terhadap kondisi TPA saat ini. Menurutnya, sanitary landfill memang merupakan sistem ideal dalam pengelolaan sampah modern, namun dalam praktiknya membutuhkan sarana, prasarana, serta dukungan anggaran yang sangat besar.

“Perubahan sistem ini merupakan langkah strategis pemerintah daerah dalam menekan potensi pencemaran lingkungan serta memperpanjang usia operasional TPA. Selama ini sistem open dumping memang memiliki banyak risiko, seperti bau, air lindi, dan potensi pencemaran air tanah. Karena itu kami mulai menerapkan sistem control landfill sebagai tahapan menuju sanitary landfill,” jelas Saiful saat ditemui Media Akurasi NTB News di TPA Batu Putih. Senin (27/04/2026).


(Foto sebelumnya saat DLH KSB menggunakan sistem open dumping, terlihat kumuh)

Ia menjelaskan, TPA Batu Putih sendiri pertama kali dibangun pada tahun 2013 dengan konsep sanitary landfill. Sistem ini dirancang dengan memperhatikan aspek lingkungan seperti pelapisan dasar sampah, pengelolaan air lindi, serta pengendalian gas metana agar tidak mencemari lingkungan sekitar.

Namun kondisi tersebut berubah drastis setelah terjadi kebakaran besar pada tahun 2017 yang menyebabkan kerusakan serius pada fasilitas TPA. Dampaknya sangat besar, tidak hanya merusak infrastruktur utama, tetapi juga membuat sistem pengelolaan sampah yang sebelumnya telah dirancang sesuai standar lingkungan menjadi tidak berjalan optimal.

Pasca kebakaran, TPA Batu Putih mengalami masa sulit. Saat itu, sarana dan prasarana sangat terbatas. Hanya tersedia satu unit ekskavator dan satu unit dozer, itupun dalam kondisi rusak berat sehingga operasional berjalan sangat tidak maksimal. Jumlah personel pun sangat minim, hanya tiga operator dan satu penjaga malam untuk menangani seluruh aktivitas di area TPA yang cukup luas.

“Banyak sekali rintangan dalam membenahi TPA ini. Serba keterbatasan, baik dari sisi alat maupun SDM. Tetapi kami tetap berupaya agar TPA Batu Putih bisa kembali berfungsi dengan baik,” ungkapnya.


(Foto setelah DLH KSB menggunakan sistem control landfill, terlihat tertata dan rapi)

Melihat kondisi tersebut, Pemerintah Daerah Kabupaten Sumbawa Barat memberikan perhatian serius melalui dukungan anggaran dan penguatan kelembagaan. Revitalisasi mulai dilakukan secara bertahap dengan menerapkan sistem control landfill, yaitu metode pengelolaan sampah dengan penimbunan terkontrol dan penutupan berkala menggunakan tanah guna mengurangi pencemaran lingkungan, bau, serta potensi kebakaran.

Menurut Saiful, perubahan ini kini mulai menunjukkan hasil nyata. Jika sebelumnya aroma sampah sangat menyengat, kini kondisi TPA jauh lebih tertata dan tidak lagi menimbulkan bau menyengat seperti dulu. Penataan zona pembuangan, pengelolaan air lindi, serta pengendalian emisi gas dan bau menjadi bagian penting dalam sistem baru tersebut.

“Dulu rusak dan sekarang lebih tertata karena sistem control landfill, dimana dengan alat dan SDM yang sudah memadai ini sampah kami timbun menggunakan tanah sesuai dengan aturan yang berlaku. Sebelumnya aroma sampah sangat menyengat, sekarang setelah menggunakan sistem control landfill aroma dari sampah sudah tidak ada lagi,” tegasnya.

Saat ini, UPTD Persampahan juga telah memiliki dua unit dump truck untuk pengangkutan material tanah penutup sampah, satu unit ekskavator baru, dan satu unit dozer baru yang sangat membantu proses pengelolaan serta penataan sampah di lokasi TPA Batu Putih. Kehadiran alat berat ini menjadi penunjang utama dalam mempercepat revitalisasi.


(Foto setelah DLH KSB menggunakan sistem control landfill)

Dari sisi sumber daya manusia, peningkatan juga sangat signifikan. Jika sebelumnya hanya empat petugas, kini jumlah karyawan bertambah menjadi 16 orang yang terdiri dari enam operator, tujuh tenaga administrasi, satu koordinator lapangan, satu petugas pencatat ritase, dan satu penjaga malam.

Saiful menegaskan bahwa target utama pemerintah bukan hanya sekadar menjadikan TPA kembali aktif, tetapi memastikan pengelolaan sampah benar-benar memenuhi standar lingkungan sesuai aturan perundang-undangan yang berlaku.

Ia berharap percepatan revitalisasi TPA Batu Putih terus mendapat dukungan penuh agar ke depan pengelolaannya dapat berjalan maksimal, baik melalui sistem control landfill secara berkelanjutan menuju sanitary landfill.

“Harapan kami tentu percepatan revitalisasi ini terus mendapat dukungan, sehingga TPA Batu Putih bisa benar-benar memenuhi standar pengelolaan sampah yang baik, aman, dan ramah lingkungan sesuai regulasi. Semakin ditunda revitalisasi maka akan semakin berat pengelolaan sampah di kemudian hari karena sampah tetap masuk dan menumpuk setiap harinya,” pungkasnya. (Hen).