Densus 88 dan Kesbangpol KSB Sosialisasi Pencegahan Paham IRET di SMPN 1 Taliwang

Taliwang, Sumbawa Barat – Tim Cegah Satgaswil NTB Densus 88 Anti Teror (AT) Polri bersama Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kabupaten Sumbawa Barat menggelar kegiatan Sosialisasi Kebangsaan (Sosbang) terkait pencegahan penyebaran paham Intoleransi, Radikalisme, Ekstremisme, dan Terorisme (IRET). Kegiatan tersebut dilaksanakan pada Rabu (11/3/2026) mulai pukul 09.00 WITA hingga selesai di SMP Negeri 1 Taliwang.

Kegiatan ini diikuti oleh sebanyak 81 siswa perwakilan dari SMP Negeri 1 Taliwang yang berlangsung di ruang rapat sekolah. Sosialisasi tersebut bertujuan untuk memperkuat wawasan kebangsaan di lingkungan sekolah sekaligus mencegah berkembangnya paham IRET di kalangan pelajar, khususnya di Kabupaten Sumbawa Barat.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMP Negeri 1 Taliwang, Anisa, Guru Bimbingan Konseling Arifin, serta Penata Layanan Operasional Kesbangpol Kabupaten Sumbawa Barat, Yeyen Ahmiati. Kehadiran para pihak tersebut menunjukkan komitmen bersama dalam menjaga generasi muda dari pengaruh paham yang bertentangan dengan nilai kebangsaan.

Dalam sambutannya, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMP Negeri 1 Taliwang, Anisa, menyampaikan ucapan selamat datang kepada Tim Cegah Satgaswil NTB Densus 88 AT Polri dan pihak Kesbangpol Kabupaten Sumbawa Barat. Ia mengapresiasi kegiatan edukasi yang diberikan kepada para siswa terkait bahaya paham intoleransi, radikalisme, ekstremisme, dan terorisme.

Menurutnya, sosialisasi seperti ini sangat penting bagi siswa agar memiliki pemahaman yang kuat tentang nilai-nilai kebangsaan. Ia juga berharap para siswa yang mengikuti kegiatan tersebut dapat menyimak materi yang disampaikan dengan baik serta mampu mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari.

“Terima kasih atas kehadiran Tim Cegah Satgaswil NTB dan Kesbangpol Kabupaten Sumbawa Barat. Kegiatan ini sangat membantu pihak sekolah dalam memberikan edukasi kepada para siswa untuk menyelamatkan generasi penerus bangsa dari pengaruh paham yang menyimpang,” ujar Anisa.

Sementara itu, Tim Cegah Satgaswil NTB Densus 88 AT Polri dalam pemaparannya memperkenalkan diri sekaligus menjelaskan tujuan kehadiran mereka di SMP Negeri 1 Taliwang. Mereka menyampaikan bahwa kegiatan tersebut bertujuan memberikan edukasi kepada para siswa mengenai bahaya paham IRET agar lingkungan sekolah tetap aman dari pengaruh ideologi kekerasan.

Dalam materi yang disampaikan, tim menjelaskan definisi serta proses terjadinya intoleransi, radikalisme, ekstremisme, dan terorisme. Para siswa juga diberikan contoh sederhana mengenai bagaimana paham tersebut bisa muncul dalam kehidupan sehari-hari, termasuk di lingkungan sekolah.

Tim juga menjelaskan bahwa saat ini sasaran penyebaran paham IRET tidak hanya orang dewasa, tetapi juga menyasar anak-anak dan generasi muda. Hal ini karena pelajar berada pada fase pencarian jati diri sehingga dianggap lebih mudah dipengaruhi oleh berbagai ideologi yang menyimpang.

Selain itu, dijelaskan pula faktor-faktor penyebab serta ciri-ciri seseorang yang mulai terpapar paham IRET. Penyebaran paham tersebut tidak hanya terjadi melalui pertemuan langsung, tetapi juga semakin masif melalui media sosial dan bahkan melalui permainan daring atau game online.

Tim Cegah Satgaswil NTB juga mengingatkan para siswa agar lebih bijak dalam menggunakan media sosial. Mereka mencontohkan salah satu kasus yang terjadi di SMAN 72 Jakarta yang bermula dari tindakan perundungan atau bullying serta aktivitas di media sosial yang kemudian berkembang menjadi tindakan yang mengarah pada radikalisme.

Para siswa pun dihimbau untuk menjauhi tindakan bullying atau perundungan di lingkungan sekolah. Menurut tim, tindakan tersebut dapat menjadi pintu masuk munculnya sikap intoleransi yang pada akhirnya dapat berkembang menjadi paham radikal hingga aksi teror.

Pada kesempatan yang sama, perwakilan Kesbangpol Kabupaten Sumbawa Barat, Yeyen Ahmiati, turut memberikan materi terkait bullying. Ia menjelaskan pengertian bullying, bentuk-bentuknya, penyebab, serta dampaknya terhadap psikologis korban.

Yeyen juga membagikan pengalamannya saat masih menjadi siswa, di mana ia pernah mengalami sekaligus menjadi pelaku bullying. Pengalaman tersebut dijadikan contoh pembelajaran bagi para siswa tentang pentingnya menghentikan perilaku perundungan serta cara menyikapinya jika terjadi di lingkungan sekolah.

Kegiatan sosialisasi berlangsung dengan interaktif dan mendapat perhatian serius dari para siswa yang hadir. Di akhir kegiatan, seluruh peserta bersama narasumber melaksanakan sesi foto bersama sebagai bentuk dokumentasi kegiatan.

Secara keseluruhan, kegiatan Sosbang pencegahan penyebaran paham IRET di SMP Negeri 1 Taliwang berlangsung aman, tertib, dan lancar. Melalui kegiatan ini diharapkan para siswa semakin memahami pentingnya menjaga persatuan, menghargai perbedaan, serta bijak dalam menyikapi informasi di era digital. (Hen).