Alumni Pesantren NTB Gelar Dialog, Tegaskan Peran Strategis Pesantren dalam Membangun Agama dan Bangsa

Mataram, 15 Juni 2026 – Jaringan Alumni Pesantren Nusa Tenggara Barat (NTB) menggelar dialog bertajuk “Pendidikan Pesantren untuk Agama dan Bangsa” di Kota Mataram. Kegiatan tersebut menjadi ruang silaturahmi sekaligus forum diskusi bagi para alumni pesantren untuk merespons berbagai isu yang berkembang terkait dunia pesantren, khususnya yang belakangan ramai diperbincangkan di media sosial.

Dialog ini diselenggarakan sebagai upaya menghadirkan perspektif yang lebih utuh mengenai peran dan kontribusi pesantren dalam membangun karakter keagamaan, moral, sosial, serta semangat kebangsaan generasi muda. Selain itu, forum tersebut juga menjadi momentum untuk meluruskan berbagai informasi yang berpotensi menimbulkan stigma negatif terhadap lembaga pendidikan pesantren.

Kegiatan tersebut mendapat dukungan dari Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Lalu Hadrian Irfani, yang membidangi urusan pendidikan, kebudayaan, pemuda, olahraga, serta riset dan inovasi. Dukungan itu dipandang sebagai bentuk perhatian nyata terhadap eksistensi pesantren sebagai salah satu pilar penting pendidikan nasional yang telah berkontribusi besar dalam perjalanan bangsa Indonesia.

Koordinator Jaringan Alumni Pesantren NTB, M. Fadaullah, yang juga merupakan alumni Pondok Pesantren NU Al-Manshuriyyah Bonder, Lombok Tengah, menegaskan bahwa masyarakat perlu menyikapi berbagai informasi yang beredar di media sosial secara bijaksana, objektif, dan proporsional.

Menurutnya, sejumlah kasus yang muncul ke publik, termasuk dugaan kekerasan seksual maupun kekerasan fisik yang terjadi di beberapa lembaga pendidikan, tidak dapat dijadikan dasar untuk menggeneralisasi seluruh pondok pesantren yang ada di Indonesia.

“Berita-berita yang beredar di media sosial belakangan ini tidak semuanya terjadi di semua pondok pesantren. Ada kasus-kasus yang memang harus menjadi perhatian bersama dan diproses sesuai ketentuan hukum yang berlaku, namun tidak bisa kemudian menjadi dasar untuk menilai seluruh pesantren secara negatif,” tegas Fadaullah.

Ia menambahkan bahwa alumni pesantren sangat mendukung penegakan hukum terhadap setiap pelanggaran yang terjadi di lingkungan pendidikan. Namun demikian, masyarakat juga perlu melihat secara objektif berbagai kontribusi besar pesantren dalam membangun kehidupan beragama, membentuk akhlak generasi muda, serta menjaga nilai-nilai kebangsaan.

“Kita tentu tidak menoleransi segala bentuk kekerasan, baik kekerasan seksual maupun kekerasan fisik. Namun pada saat yang sama, kita juga harus mengakui bahwa pesantren memiliki jasa besar dalam membangun kehidupan beragama dan kehidupan berbangsa di Indonesia,” tambahnya.

Dalam kesempatan yang sama, Anggota DPRD Provinsi NTB dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Akhdiansyah, yang juga dikenal dengan sapaan Guru To’i, mengajak seluruh alumni pesantren untuk ikut mengawal implementasi Undang-Undang Pesantren agar manfaatnya benar-benar dirasakan oleh seluruh lembaga pesantren di Indonesia.

Sebagai Ketua Panitia Khusus (Pansus) yang membahas regulasi pesantren sekaligus penggagas Peraturan Daerah (Perda) Pesantren di NTB, Akhdiansyah menegaskan bahwa negara memiliki tanggung jawab untuk hadir memberikan dukungan nyata bagi pengembangan pesantren.

Menurutnya, dukungan tersebut tidak hanya dalam bentuk regulasi, tetapi juga melalui pembangunan sarana dan prasarana, peningkatan mutu pendidikan, kesejahteraan tenaga pendidik, akses layanan kesehatan bagi santri, hingga penguatan kapasitas kelembagaan pesantren agar mampu menjawab tantangan zaman.

Sementara itu, Komisioner Komisi Informasi NTB, Sueb Quri, menilai pesantren telah memainkan peran strategis dalam mencetak generasi yang memiliki pemahaman keagamaan yang kuat, akhlak mulia, serta komitmen tinggi terhadap nilai-nilai kebangsaan.

Menurutnya, banyak tokoh bangsa, ulama, akademisi, birokrat, hingga pemimpin daerah yang lahir dari rahim pesantren. Oleh karena itu, berbagai persoalan yang muncul di sejumlah pesantren harus dijadikan bahan evaluasi untuk perbaikan, tanpa menghilangkan apresiasi terhadap kontribusi besar lembaga tersebut.

Sueb juga menyoroti eksistensi pesantren-pesantren berbasis tradisi keagamaan yang telah lama berkembang di NTB maupun Indonesia, seperti pesantren yang berafiliasi dengan organisasi Nahdlatul Ulama (NU) dan Nahdlatul Wathan (NW). Menurutnya, kedua tradisi besar tersebut memiliki sejarah panjang dalam membangun karakter bangsa serta berkontribusi dalam perjuangan kebangsaan sejak masa kemerdekaan.

Pandangan serupa disampaikan Presiden Pemuda Sasak NTB, Taupik Hidayat. Ia berharap para alumni pesantren tetap menjalankan fungsi kontrol sosial di tengah masyarakat dan menjadi agen perubahan yang mampu memberikan solusi terhadap berbagai persoalan sosial.

Taupik juga mengingatkan pentingnya menjaga hubungan emosional antara alumni dan almamater. Menurutnya, kontribusi alumni tidak harus selalu dalam bentuk materi, tetapi juga dapat diwujudkan melalui dukungan moral, pemikiran, tenaga, maupun keterlibatan aktif dalam berbagai program pengembangan pesantren.

“Alumni pesantren harus tetap menjadi bagian dari kemajuan almamaternya. Hubungan yang terjalin dengan baik akan menjadi kekuatan besar dalam membangun pesantren yang semakin maju, mandiri, dan berdaya saing,” ujarnya.

Sebagai hasil akhir dialog, seluruh peserta sepakat bahwa pemerintah, baik di tingkat pusat maupun daerah, perlu memberikan perhatian yang lebih serius dan berkelanjutan terhadap pengembangan pondok pesantren. Dukungan tersebut dinilai penting untuk memperkuat kualitas pendidikan, meningkatkan perlindungan terhadap santri, mendorong kesejahteraan tenaga pendidik, serta memastikan keberlanjutan peran pesantren sebagai lembaga pendidikan yang berkontribusi besar dalam membangun kehidupan beragama dan kebangsaan di Indonesia.

Melalui dialog ini, para alumni pesantren NTB menegaskan bahwa pesantren bukan hanya lembaga pendidikan keagamaan semata, melainkan juga pusat pembentukan karakter, moralitas, dan nilai-nilai kebangsaan yang selama puluhan tahun telah melahirkan generasi penerus bangsa. Oleh karena itu, keberadaan pesantren perlu terus diperkuat agar mampu menjawab tantangan zaman sekaligus mempertahankan perannya sebagai benteng moral dan spiritual masyarakat Indonesia. (S).