Densus 88 AT Polri Edukasi 400 Santri Ponpes Himmatul Ummah, Perkuat Pencegahan Intoleransi, Radikalisme, dan Ekstremisme

Brang Rea, Sumbawa Barat – Tim Cegah Satgaswil Nusa Tenggara Barat (NTB) Densus 88 Anti Teror (AT) Polri kembali mengintensifkan upaya pencegahan penyebaran paham Intoleransi, Radikalisme, dan Ekstremisme (IRE) melalui kegiatan Sosialisasi Kebangsaan (Sosbang). Kali ini, kegiatan dilaksanakan di Masjid Pondok Pesantren Himmatul Ummah, Desa Sapugara Bree, Kecamatan Brang Rea, Kabupaten Sumbawa Barat, Sabtu (18/07/2026).

Kegiatan tersebut diikuti sekitar 400 santri dari jenjang TK, MI, MTs, hingga MA. Turut hadir Pimpinan Pondok Pesantren Himmatul Ummah, KH. Syamsul Ismain, Lc., bersama sekitar 23 orang guru dan staf pengajar yang turut mendampingi para santri selama kegiatan berlangsung.

Dalam sambutannya, KH. Syamsul Ismain, Lc. menyampaikan apresiasi dan ucapan selamat datang kepada Tim Cegah Satgaswil NTB Densus 88 AT Polri yang telah memilih Pondok Pesantren Himmatul Ummah sebagai lokasi pelaksanaan sosialisasi pencegahan paham Intoleransi, Radikalisme, dan Ekstremisme.

"Kami mengucapkan selamat datang kepada Tim Cegah Satgaswil NTB serta menyampaikan terima kasih atas kesediaannya hadir memberikan edukasi kepada para santri kami. Kegiatan seperti ini sangat penting sebagai bekal bagi para santri dalam menghadapi tantangan perkembangan zaman, khususnya di era digital," ujar KH. Syamsul Ismain.

Sementara itu, mewakili Tim Cegah Satgaswil NTB Densus 88 AT Polri, IPDA Sumardiansyah menjelaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari langkah preventif untuk meningkatkan pemahaman masyarakat, khususnya kalangan pelajar dan santri, mengenai bahaya penyebaran paham Intoleransi, Radikalisme, dan Ekstremisme.

Dalam pemaparannya, IPDA Sumardiansyah memperkenalkan tugas dan fungsi Tim Cegah Satgaswil NTB, sekaligus menjelaskan pengertian paham IRE beserta berbagai bentuk penyebarannya yang kini semakin masif melalui media sosial dan platform digital.

Ia mengungkapkan bahwa saat ini konten kekerasan ekstrem banyak beredar di dunia maya dan berpotensi memengaruhi anak-anak maupun remaja yang masih berada pada usia rentan. Bahkan, di wilayah Sumbawa dan Sumbawa Barat telah ditemukan adanya anak-anak usia sekitar 15 tahun yang tergabung dalam grup WhatsApp "Mexico El Chapo", yang terindikasi memiliki keterkaitan dengan Nihilistic Violent Extremism (NVE) dan True Crime Community (TCC), yang menyebarkan konten-konten kekerasan ekstrem.

"Fenomena ini menjadi perhatian serius karena siswa sekolah merupakan kelompok yang rentan dipengaruhi oleh informasi yang mereka konsumsi melalui media sosial. Oleh karena itu, diperlukan langkah pencegahan melalui edukasi sejak dini agar mereka mampu membedakan informasi yang baik dan yang dapat membahayakan diri maupun lingkungan," jelas IPDA Sumardiansyah.

Ia mengimbau para santri agar mampu mengendalikan emosi, tidak menyelesaikan persoalan dengan kekerasan, serta menggunakan media sosial secara bijak. Menurutnya, generasi muda harus memiliki kemampuan menyaring informasi dan tidak mudah terpengaruh ajakan bergabung dengan kelompok atau komunitas yang menyebarkan konten kekerasan maupun paham ekstrem.

IPDA Sumardiansyah juga menegaskan bahwa pondok pesantren memiliki posisi yang sangat strategis sebagai benteng utama dalam mencegah berkembangnya paham radikal di tengah masyarakat. Melalui pendidikan agama yang moderat, penguatan nilai-nilai kebangsaan, toleransi, serta penghormatan terhadap keberagaman, pesantren mampu membentuk karakter santri yang cinta damai dan menjunjung tinggi persatuan bangsa.

"Pesantren selama ini telah memberikan kontribusi besar dalam membangun generasi yang berakhlak mulia, moderat, serta memiliki semangat kebangsaan. Nilai-nilai inilah yang harus terus dijaga agar para santri tidak mudah terpengaruh oleh paham radikal maupun ajakan kekerasan," tegasnya.

Ia berharap melalui kegiatan sosialisasi tersebut, para pengasuh pondok pesantren, ustaz, guru, santri, hingga masyarakat sekitar semakin memahami ciri-ciri paham Intoleransi, Radikalisme, dan Ekstremisme, serta mampu berperan aktif menjaga persatuan, kerukunan, dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Suasana sosialisasi berlangsung penuh antusias. Para santri dan guru tampak aktif mengikuti materi yang disampaikan. Hal itu terlihat dari sesi tanya jawab yang berlangsung interaktif, di mana banyak peserta mengajukan pertanyaan mengenai pengalaman Tim Densus 88 dalam menangani anak-anak yang terpapar konten kekerasan, alasan kelompok tertentu menyasar anak-anak melalui media sosial, hingga dampak psikologis dan sosial akibat mengonsumsi konten kekerasan ekstrem.

Melalui dialog tersebut, para peserta memperoleh pemahaman yang lebih luas mengenai pentingnya literasi digital, pengawasan penggunaan media sosial, serta peran keluarga, sekolah, dan pesantren dalam melindungi generasi muda dari berbagai bentuk penyimpangan ideologi dan kekerasan.

Kegiatan Sosialisasi Kebangsaan (Sosbang) pencegahan paham Intoleransi, Radikalisme, dan Ekstremisme (IRE) di Pondok Pesantren Himmatul Ummah akhirnya ditutup dalam suasana aman, tertib, dan penuh semangat kebersamaan. Diharapkan, kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan sebagai upaya memperkuat ketahanan masyarakat terhadap berbagai ancaman ideologi yang dapat mengganggu persatuan bangsa serta menjaga generasi muda Indonesia tetap berpegang teguh pada nilai-nilai agama, toleransi, dan cinta tanah air. (Hen).