Taliwang, Sumbawa Barat – SMKN 1 Taliwang kembali menunjukkan kreativitas dan inovasi para siswanya melalui sebuah teknologi tepat guna bernama “Bri Bless”, kompor briket portable berbahan limbah yang dinilai ramah lingkungan dan berpotensi menjadi solusi alternatif di tengah kelangkaan LPG.
Inovasi tersebut dipresentasikan dalam kegiatan kunjungan dinas terkait dalam rangka teknologi tepat guna dan lomba tahunan yang bertujuan mendorong pengembangan inovasi di lingkungan sekolah vokasi. Bertempat di SMKN 1 Taliwang. Kamis (21/05/2026).
Dalam kegiatan tersebut, pihak dinas hadir untuk melihat langsung sekaligus menguji coba berbagai alat inovasi yang dikembangkan siswa SMKN 1 Taliwang.
Guru Jurusan Teknik Jaringan Akses Telekomunikasi dan Teknik Komputer SMKN 1 Taliwang, Agung Haryadi, menjadi salah satu pembicara utama dalam presentasi inovasi tersebut.
Sementara itu, dua siswi kelas XI TJAT, yakni Salsabila dan Claudia, tampil sebagai perwakilan siswa yang mempresentasikan secara langsung cara kerja dan keunggulan alat “Bri Bless”.
Pada kesempatan itu, Agung Haryadi mengatakan, bahwa nama “Bri Bless” sendiri merupakan gabungan dari kata “briket” dan “bless” atau angin, yang menggambarkan penggunaan bahan bakar briket dengan sistem blower pada alat tersebut.
"Kompor portable ini menggunakan bahan bakar briket yang dibuat dari limbah seperti ranting kayu, sisa kayu tak terpakai, hingga limbah industri kayu dan mebel," ungkapnya.
Tidak hanya itu, kompor dan beberapa komponennya juga dibuat dengan memanfaatkan plat bekas dan kipas dari perangkat komputer bekas sehingga menerapkan prinsip pemanfaatan limbah secara maksimal.
"Bri Bless dirancang sebagai kompor tanpa asap dengan sistem blower terkontrol sehingga proses pembakaran lebih optimal dan efisien," jelas Agung.
Kompor tersebut juga dinilai praktis karena memiliki desain portable yang mudah dipindahkan dan dapat digunakan di berbagai kondisi.
Untuk sumber daya, alat ini memiliki dua pilihan operasional, yakni menggunakan adaptor listrik maupun powerbank dan panel surya mini sehingga tetap dapat digunakan secara fleksibel di luar ruangan.
"Kecepatan blower pada kompor juga dapat diatur menggunakan komponen elektronika sehingga panas yang dihasilkan dapat dikontrol layaknya kompor gas," ujarnya.
Menurut Agung Haryadi, inovasi ini dikembangkan untuk menghadirkan solusi memasak yang hemat, efisien, dan ramah lingkungan dengan memanfaatkan sumber daya lokal yang tersedia di sekitar masyarakat.
“Kami ingin menunjukkan bahwa limbah yang selama ini dianggap tidak berguna ternyata bisa diolah menjadi teknologi yang bermanfaat dan memiliki nilai ekonomi,” tukas Agung Haryadi.
Ditempat yang sama, Salsabila menjelaskan bahwa konsep alat saat ini sudah menunjukkan performa yang cukup baik, terutama dari sisi efisiensi pembakaran dan minimnya asap yang dihasilkan.
"Meski demikian, kami masih terus melakukan penyempurnaan agar alat lebih aman dan mudah digunakan oleh masyarakat umum," jelas Salsabila.
Dalam kunjungan tersebut, pihak dinas memberikan tanggapan positif terhadap inovasi yang dikembangkan siswa SMKN 1 Taliwang.
"Alat kami ini dinilai memiliki potensi besar sebagai teknologi tepat guna yang bermanfaat bagi masyarakat, khususnya sebagai alternatif saat terjadi kelangkaan atau mahalnya harga LPG," ungkapnya.
Selain ramah lingkungan, inovasi “Bri Bless” juga dinilai mampu membuka peluang ekonomi baru di masyarakat.
Pemanfaatan limbah kayu dan plat bekas dapat menghidupkan kembali industri pembuatan kompor berbahan plat bekas serta mendorong tumbuhnya pasar briket lokal.
"Pihak dinas juga memberikan sejumlah masukan teknis, mulai dari optimalisasi blower, peningkatan standar keamanan, hingga pengujian lebih luas agar alat dapat digunakan secara aman di dalam ruangan tanpa mengganggu kualitas udara," ungkapnya.
Sementara Claudia, salah satu siswi yang terlibat dalam presentasi, mengaku bangga dapat ikut berkontribusi dalam pengembangan inovasi tersebut.
Ia berharap karya siswa SMKN 1 Taliwang dapat dikenal lebih luas dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
“Kami berharap inovasi ini tidak hanya menjadi proyek sekolah, tetapi benar-benar bisa digunakan masyarakat dan membantu mengatasi masalah kebutuhan bahan bakar,” ujarnya.
Tak hanya itu, Claudia juga berharap kepada pemerintah agar dapat memberikan dukungan lanjutan agar inovasi tersebut dapat dikembangkan hingga tahap produksi.
Menurutnya, dukungan pemerintah sangat penting agar karya siswa tidak berhenti hanya sebagai bahan demonstrasi atau lomba semata.
"Dengan dukungan penyempurnaan teknis dan kolaborasi berbagai pihak, “Bri Bless” kami nilai alat inovasi kami ini memiliki peluang besar menjadi solusi lokal dalam menghadapi kelangkaan LPG sekaligus menggerakkan industri kompor dan briket berbasis limbah di Kabupaten Sumbawa Barat," pungkasnya. (Hen).



