Tim Cegah Satgaswil NTB Edukasi 410 Siswa MAN 1 Sumbawa Barat tentang Bahaya Intoleransi, Radikalisme, dan Ekstremisme

Taliwang, Sumbawa Barat – Tim Cegah Satuan Tugas Wilayah (Satgaswil) Nusa Tenggara Barat (NTB) menggelar kegiatan Sosialisasi Kebangsaan (Sosbang) tentang pencegahan paham Intoleransi, Radikalisme, dan Ekstremisme (IRE) di MAN 1 Sumbawa Barat, Senin (20/7/2026). Kegiatan yang berlangsung di lapangan upacara sekolah tersebut diikuti oleh sekitar 410 siswa serta dihadiri para guru dan tenaga kependidikan.

Kegiatan dimulai pukul 07.15 WITA dan berlangsung dengan tertib serta penuh antusiasme. Hadir dalam kesempatan tersebut Kepala MAN 1 Sumbawa Barat, H. Abdul Aziz, S.Ag., bersama sekitar 25 orang guru dan staf yang turut mendampingi para siswa selama kegiatan berlangsung.

Dalam sambutannya, H. Abdul Aziz menyampaikan apresiasi dan ucapan selamat datang kepada Tim Cegah Satgaswil NTB yang telah memilih MAN 1 Sumbawa Barat sebagai lokasi pelaksanaan sosialisasi. Menurutnya, kegiatan tersebut sangat penting untuk membekali peserta didik dengan pemahaman yang benar mengenai bahaya paham intoleransi, radikalisme, dan ekstremisme di tengah perkembangan teknologi informasi yang semakin pesat.

"Kami mengucapkan terima kasih kepada Tim Cegah Satgaswil NTB atas kesediaannya hadir memberikan edukasi kepada para siswa. Semoga kegiatan ini dapat menambah wawasan dan memperkuat karakter peserta didik agar tidak mudah terpengaruh oleh paham-paham yang bertentangan dengan nilai-nilai kebangsaan," ujar Abdul Aziz.

Pada sesi materi, Tim Cegah Satgaswil NTB memperkenalkan diri sekaligus menjelaskan tujuan pelaksanaan sosialisasi, yakni meningkatkan pemahaman siswa mengenai ancaman paham Intoleransi, Radikalisme, dan Ekstremisme (IRE). Tim menjelaskan pengertian ketiga paham tersebut, faktor-faktor yang menyebabkan penyebarannya, serta berbagai modus yang kerap digunakan untuk memengaruhi masyarakat, khususnya generasi muda.

Tim juga memberikan perhatian khusus terhadap maraknya penyebaran konten kekerasan ekstrem melalui media sosial. Dalam pemaparannya disebutkan bahwa anak-anak usia sekolah merupakan kelompok yang rentan menjadi sasaran penyebaran konten negatif. Tim mengingatkan bahwa di wilayah Sumbawa dan Sumbawa Barat pernah ditemukan kelompok siswa berusia sekitar 15 tahun yang tergabung dalam grup WhatsApp bernama *Mexico el Chapo*, yang terindikasi berkaitan dengan penyebaran konten kekerasan ekstrem. Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan pentingnya langkah-langkah pencegahan melalui edukasi di lingkungan sekolah.

Selain itu, para siswa diingatkan agar mampu mengendalikan emosi, tidak menyelesaikan persoalan dengan tindakan kekerasan, serta bijak dalam menggunakan media sosial. Tim mengimbau peserta didik untuk tidak mudah terpengaruh informasi provokatif, tidak bergabung dengan grup media sosial yang menyebarkan konten kekerasan, serta selalu melakukan penyaringan terhadap informasi yang diterima.

Dalam penyampaiannya, Tim Cegah Satgaswil NTB juga menegaskan pentingnya menanamkan nilai-nilai Pancasila sebagai dasar kehidupan berbangsa dan bernegara. Para siswa diajak untuk terus menjaga toleransi antarumat beragama, menghormati perbedaan, memperkuat rasa cinta tanah air, serta meningkatkan literasi digital agar mampu menghadapi berbagai tantangan di era perkembangan teknologi informasi.

Suasana kegiatan berlangsung interaktif. Para siswa tampak antusias mengikuti setiap sesi dengan aktif berdiskusi dan mengajukan berbagai pertanyaan mengenai langkah-langkah pencegahan penyebaran paham intoleransi, radikalisme, dan ekstremisme, baik di lingkungan sekolah maupun di tengah masyarakat. Dialog tersebut menjadi ruang bagi siswa untuk memahami cara mengenali dan menghindari pengaruh ideologi yang dapat mengancam persatuan bangsa.

Melalui kegiatan ini, Tim Cegah Satgaswil NTB berharap para siswa dapat menjadi agen perubahan yang menyebarkan nilai-nilai toleransi, persatuan, dan cinta tanah air di lingkungan sekolah maupun masyarakat. Edukasi sejak dini dinilai menjadi langkah strategis dalam membangun generasi muda yang berkarakter, kritis, serta memiliki daya tangkal terhadap berbagai bentuk penyebaran paham yang bertentangan dengan ideologi Pancasila dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Secara keseluruhan, kegiatan Sosialisasi Kebangsaan tentang pencegahan paham Intoleransi, Radikalisme, dan Ekstremisme (IRE) di MAN 1 Sumbawa Barat berlangsung aman, tertib, dan lancar. Diharapkan kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan sebagai upaya memperkuat ketahanan generasi muda dalam menghadapi tantangan sosial di era digital. (Hen).