Taliwang, Sumbawa Barat — Upaya memperkuat perlindungan anak dari paparan paham radikalisme dan ekstremisme kekerasan terus dilakukan Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat. Salah satunya melalui Seminar Parenting Deteksi Dini dan Pencegahan Radikalisme pada Anak yang digelar Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Kabupaten Sumbawa Barat. Selasa (29/09/2026).
Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 09.00 WITA tersebut dipusatkan di Aula Gili Paserang Lantai III Gedung Graha Praja Sekretariat Daerah Kabupaten Sumbawa Barat. Seminar mengangkat tema “Memahami Risiko Paparan, Deteksi Dini dan Langkah Pencegahan Radikalisme pada Anak di Era Digital.”
Seminar tersebut menghadirkan dua narasumber, yakni IPDA Embun Hariadi dari Satgaswil NTB Densus 88 AT Polri dan Irwan Rosadi, S.Psi., M.Psi., selaku psikolog. Keduanya memberikan perspektif berbeda yang saling melengkapi, mulai dari aspek pencegahan ekstremisme berbasis kekerasan hingga pendekatan psikologis dalam pengasuhan anak dan remaja.
Kegiatan turut dihadiri Wakil Bupati Sumbawa Barat Hj. Hanipah, S.Pt., M.M.Inov., Asisten I Sekretariat Daerah Khusnarty, S.Pd., M.M.Inov., Kepala Bakesbangpol Saifullah, S.IP., serta Kepala Bidang Kewaspadaan dan Ketahanan Nasional Bakesbangpol Edy Rahmat Fahmi, S.E., M.M.Inov.
Sebanyak 150 peserta mengikuti kegiatan tersebut. Peserta berasal dari masyarakat Kelurahan Sampir dan Kelurahan Bugis serta ibu-ibu Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kabupaten Sumbawa Barat.
Dalam kegiatan tersebut, Bakesbangpol menempatkan keluarga sebagai salah satu unsur penting dalam membangun lingkungan yang aman bagi tumbuh kembang anak. Orang tua dinilai perlu memiliki pemahaman mengenai perubahan perilaku anak, perkembangan psikologis remaja, sekaligus pola penggunaan perangkat digital yang dapat membuka akses terhadap berbagai jenis konten.
Dalam pemaparannya, IPDA Embun Hariadi menjelaskan mengenai upaya melindungi keluarga dari bahaya radikalisme dan ekstremisme berbasis kekerasan. Ia memperkenalkan tiga klaster ekstremisme berbasis kekerasan, yakni Religiously Motivated Violent Extremism (RMVE), Ideologically Motivated Violent Extremism (IMVE), dan Nihilistic Violent Extremism (NVE).
Tim Cegah Satgaswil NTB juga membahas karakteristik anak yang berpotensi mengalami paparan ekstremisme. Dalam penyampaian materi, peserta diberikan sejumlah contoh kasus yang pernah terjadi di beberapa daerah di Indonesia, termasuk kasus anak di SMAN 72 Jakarta Utara, Jepara, Jawa Tengah, Singkawang, Kalimantan Barat, serta penanganan anak yang pernah terjadi di wilayah Provinsi NTB.
"Kita harus memberikan perhatian khusus terhadap aktivitas anak di ruang digital. Penggunaan internet, media sosial maupun permainan daring perlu mendapatkan pendampingan orang tua, terutama ketika anak mengakses konten yang mengandung kekerasan maupun simbol-simbol ekstremisme," ujarnya.
Peserta juga mendapatkan edukasi mengenai kebijakan pemerintah terkait Rencana Aksi Nasional Pencegahan dan Penanggulangan Ekstremisme Berbasis Kekerasan yang Mengarah pada Terorisme (RAN PE), serta kebijakan terkait perlindungan anak dalam penggunaan platform digital berisiko tinggi.
Tim Cegah Satgaswil NTB mengimbau para orang tua agar meluangkan waktu untuk mendampingi anak ketika menggunakan telepon seluler. Pendampingan tersebut tidak hanya berupa pengawasan, tetapi juga membangun komunikasi yang terbuka sehingga anak memiliki ruang untuk bercerita mengenai pengalaman dan aktivitasnya di dunia digital.
"Penguatan nilai-nilai Pancasila, toleransi, penghargaan terhadap perbedaan dan wawasan kebangsaan juga dinilai penting sebagai bagian dari proses pendidikan di lingkungan keluarga. Orang tua kami harapkan mampu membimbing anak untuk mengenali dan menghindari konten yang mengandung narasi radikal, ekstrem, provokatif maupun intoleran," tukasnya.
Sementara itu, psikolog Irwan Rosadi, S.Psi., M.Psi., memberikan perspektif dari sisi perkembangan anak dan remaja. Ia menjelaskan pentingnya pola pengasuhan positif dalam membangun ketahanan diri remaja, terutama ketika mereka memasuki masa transisi dan mulai mengembangkan identitas diri serta identitas sosial dalam lingkungan pergaulan.
"Masa remaja merupakan fase penting dalam perkembangan seseorang. Pertumbuhan fisik yang berlangsung pesat tidak selalu berjalan seiring dengan perkembangan psikologis, sehingga anak membutuhkan pendampingan yang sesuai dengan tahapan perkembangannya," jelas Irwan.
Irwan juga memaparkan sejumlah kondisi yang dapat menjadi bagian dari perjalanan seorang remaja menuju perilaku yang lebih berisiko, di antaranya pola pengasuhan yang menggunakan kekerasan, pengalaman menjadi korban perundungan atau bullying, serta paparan permainan daring yang mengandung unsur kekerasan.
Karena itu, orang tua didorong untuk menjadi teladan bagi anak. Pengasuhan tidak hanya dilakukan dengan memberikan nasihat, tetapi juga melalui keteladanan, mengingatkan ketika anak melakukan kesalahan, serta membantu memperbaiki perilaku dengan pendekatan kasih sayang dan kesabaran.
"Pola pengasuhan juga perlu disesuaikan dengan kebutuhan anak pada setiap tahapan perkembangan. Selain mempertimbangkan karakter anak, proses pengasuhan perlu memperhatikan lingkungan budaya dan nilai agama tempat anak tumbuh, termasuk menghadapi tantangan baru yang muncul pada era digital," pungkasnya.
Dalam sesi diskusi dan tanya jawab, peserta secara aktif menyampaikan pertanyaan kepada para narasumber. Sejumlah isu yang dibahas antara lain tiga klaster ekstremisme berbasis kekerasan, tantangan deteksi dini, pola pencegahan pada anak, pengawasan penggunaan gawai hingga penggunaan permainan daring.
Diskusi berlangsung dalam suasana tertib dan interaktif. Peserta mendapatkan kesempatan untuk menyampaikan persoalan yang dihadapi dalam lingkungan keluarga maupun masyarakat, kemudian mendapatkan penjelasan dari narasumber berdasarkan perspektif pencegahan dan pendekatan psikologis.
Melalui kegiatan tersebut, Densus 88 AT Polri juga menegaskan bahwa upaya pencegahan dilakukan secara terbuka melalui edukasi dan penyampaian informasi. Kolaborasi dengan pemerintah daerah, keluarga, masyarakat dan berbagai unsur terkait dinilai diperlukan untuk membangun sistem pencegahan yang lebih kuat di Kabupaten Sumbawa Barat.
Seminar parenting ini pada akhirnya tidak hanya menempatkan persoalan radikalisme sebagai isu keamanan, tetapi juga sebagai persoalan pengasuhan, pendidikan, literasi digital dan ketahanan keluarga. Pemahaman tersebut diharapkan dapat membantu orang tua mengenali perubahan perilaku anak sekaligus menentukan langkah pendampingan yang tepat.
Bakesbangpol Kabupaten Sumbawa Barat berharap kegiatan serupa dapat memperkuat sinergi antara pemerintah, aparat, keluarga, organisasi perempuan, masyarakat dan pihak terkait lainnya. Sinergi tersebut menjadi bagian dari upaya menciptakan lingkungan yang aman bagi anak untuk tumbuh, belajar dan berkembang.
Kegiatan Seminar Parenting Deteksi Dini dan Pencegahan Radikalisme pada Anak di Kabupaten Sumbawa Barat berlangsung dengan aman dan lancar. Melalui penguatan peran keluarga dan peningkatan literasi masyarakat, kegiatan tersebut diharapkan dapat mendukung upaya bersama dalam mencegah penyebaran paham intoleran, radikalisme dan ekstremisme kekerasan di wilayah Sumbawa Barat. (Hen).
