Mataram – Anggota DPRD Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) sekaligus anggota Komisi IV DPRD NTB, Fakhruddin, menegaskan pentingnya mewujudkan pesantren yang ramah santri sebagai benteng akhlak dan peradaban bangsa. Menurutnya, pesantren memiliki peran strategis dalam membentuk karakter generasi muda sekaligus menjaga nilai-nilai keislaman dan kebangsaan di tengah berbagai tantangan zaman yang terus berkembang.
Fakhruddin menyampaikan bahwa pesantren merupakan lembaga pendidikan tertua di Indonesia yang telah memberikan kontribusi besar bagi perjalanan bangsa. Dari lingkungan pesantren lahir banyak ulama, tokoh agama, pemimpin daerah, pejuang kemerdekaan, hingga pemikir bangsa yang berperan dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Menurutnya, sejak dahulu pesantren tidak hanya berfungsi sebagai tempat menimba ilmu agama, tetapi juga menjadi pusat pembinaan akhlak, penguatan mental, pengembangan wawasan kebangsaan, serta wadah pembentukan karakter generasi muda yang berintegritas dan berdaya saing. Peran historis tersebut menjadikan pesantren sebagai salah satu pilar penting dalam pembangunan sumber daya manusia Indonesia.
"Pesantren bukan sekadar tempat belajar, tetapi rumah kedua bagi para santri. Di sanalah karakter dibentuk, ilmu ditanamkan, dan cita-cita masa depan dirajut. Sejarah bangsa Indonesia mencatat bahwa pesantren telah menjadi bagian penting dalam perjuangan kemerdekaan dan pembangunan peradaban," ujar Fakhruddin.
Politisi Partai NasDem itu menilai bahwa seluruh pesantren harus mampu menghadirkan lingkungan pendidikan yang aman, nyaman, inklusif, dan penuh kasih sayang. Ia menegaskan tidak boleh ada ruang bagi segala bentuk kekerasan, baik fisik, verbal, psikologis, maupun perundungan yang dapat mengganggu tumbuh kembang para santri.
Menurutnya, pendidikan karakter dan kedisiplinan tidak harus dibangun melalui pendekatan yang keras. Justru keteladanan dari para guru, pembinaan yang berkelanjutan, dialog yang terbuka, serta kasih sayang menjadi kunci utama dalam membentuk pribadi santri yang berakhlak mulia, mandiri, dan bertanggung jawab.
"Tidak ada pendidikan yang berhasil melalui ketakutan, dan tidak ada akhlak mulia yang tumbuh dari kekerasan. Pendidikan yang sejati lahir dari keteladanan, kasih sayang, penghormatan terhadap martabat manusia, serta hubungan yang penuh kepercayaan antara guru dan santri," tegasnya.
Fakhruddin menambahkan bahwa menjaga pesantren dari segala bentuk kekerasan merupakan tanggung jawab bersama. Ketika santri merasa aman, dihargai, dan mendapatkan perlindungan yang memadai, mereka akan tumbuh menjadi generasi yang kuat secara mental, sehat secara psikologis, serta memiliki fondasi moral yang kokoh dalam menghadapi tantangan kehidupan.
Sebaliknya, praktik kekerasan hanya akan meninggalkan luka dan trauma yang berpotensi menghambat perkembangan santri. Kondisi tersebut bertentangan dengan tujuan utama pendidikan pesantren yang selama ini dikenal sebagai tempat lahirnya generasi berilmu, berkarakter, memiliki kepedulian sosial, serta mampu menjadi teladan di tengah masyarakat.
Karena itu, Fakhruddin mengajak seluruh elemen masyarakat, pengelola pesantren, tenaga pendidik, orang tua, dan pemerintah untuk memperkuat komitmen bersama dalam menciptakan lingkungan pesantren yang ramah dan membahagiakan bagi seluruh santri. Ia menegaskan bahwa menjaga santri berarti menjaga masa depan Indonesia, sementara menjaga pesantren berarti menjaga salah satu warisan berharga bangsa yang telah menjadi bagian penting dalam sejarah perjuangan dan pembangunan nasional. "Pesantren yang ramah santri bukan hanya mencetak generasi cerdas, tetapi juga melahirkan generasi berakhlak yang akan menjadi penerus bangsa di masa depan," pungkasnya. (Hen).

