Diduga Rakit Bom di Lingkungan Sekolah, Pelajar MAN 3 Padang Diamankan Polisi

Padang – Aparat Kepolisian bersama personel terkait mengamankan seorang pelajar berinisial RGJ (17), siswa kelas XII IPS MAN 3 Padang, setelah ditemukan sejumlah barang yang diduga berkaitan dengan pembuatan bahan peledak rakitan di lingkungan sekolah, Selasa (14/7/2026).

Peristiwa tersebut bermula sekitar pukul 11.30 WIB ketika petugas keamanan (satpam) MAN 3 Padang menemukan sebuah kotak berwarna hitam dan sebuah tas hitam yang mencurigakan di area sekolah. Karena khawatir membahayakan keselamatan warga sekolah, barang tersebut kemudian diamankan ke ruang guru sebelum dilaporkan kepada pihak kepolisian.

Setelah menerima laporan, personel kepolisian bersama tim yang berwenang segera mendatangi lokasi untuk melakukan sterilisasi dan pemeriksaan sesuai standar operasional penanganan benda yang diduga mengandung bahan peledak. Dari hasil pemeriksaan awal, petugas mengamankan sejumlah barang bukti berupa satu kotak hitam, satu tas hitam, satu unit telepon genggam, dua buah kapel, kelereng, korek api, petasan, scarf, sarung tangan, topi cokelat, pisau, anak panah, kartu pelajar, baut, serta sepasang sepatu.

Berdasarkan penyelidikan awal, seluruh barang tersebut diduga merupakan milik seorang siswa berinisial RGJ. Yang bersangkutan kemudian diamankan untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut guna mengungkap motif serta memastikan ada atau tidaknya keterlibatan pihak lain dalam kasus tersebut.

Kapolresta Padang, Kombes Pol. Apri Wibowo, S.I.K., M.H., mengatakan bahwa jajaran kepolisian bergerak cepat setelah menerima laporan dari pihak sekolah demi menjamin keselamatan seluruh warga sekolah dan masyarakat sekitar.

"Kami langsung melakukan pengamanan lokasi, mengevakuasi barang yang dicurigai, serta melakukan pemeriksaan sesuai prosedur yang berlaku. Keselamatan masyarakat menjadi prioritas utama dalam setiap penanganan dugaan bahan peledak," ujar Kombes Pol. Apri Wibowo.

Dari hasil pemeriksaan awal terhadap yang bersangkutan, diketahui bahwa pelajar tersebut mengaku pernah membuat petasan dan berencana merakit petasan dengan daya ledak yang lebih besar menggunakan kotak pensil yang dimodifikasi dengan paku, diisi bubuk mesiu, serta dipasang sumbu petasan. Seluruh keterangan tersebut masih didalami penyidik melalui proses pemeriksaan lanjutan.

Sementara, Densus 88 Antiteror Polri, Briptu Arif Sahid Amrullah mengatakan bahwa yang bersangkutan mengaku memiliki niat membuat bom karena merasa sering menjadi korban perundungan (bullying) oleh sejumlah teman sekolahnya. Selain itu, penyidik juga mendalami pengakuan bahwa ketertarikannya terhadap pembuatan bom muncul sejak tahun 2025 setelah mengikuti perkembangan suatu kasus yang viral di media sosial serta bergabung dalam sejumlah grup di aplikasi Telegram yang berisi tutorial pembuatan bahan peledak.

“Dari hasil interogasi awal, kami juga memperoleh pengakuan bahwa yang bersangkutan telah merakit beberapa perangkat yang disebutnya terdiri atas bom paku, bom pipa, perangkat berbahan gas beracun, petasan pabrik yang dimodifikasi, hingga flashbang. Seluruh pengakuan tersebut masih dalam proses verifikasi melalui pemeriksaan laboratorium forensik dan penyelidikan lebih lanjut oleh aparat yang berwenang,” ungkapnya.

Ia menambahkan, bahwa Polisi juga mendalami dugaan bahwa sejumlah bahan seperti sulfur, kalium klorat (KCl), belerang bubuk, dan aluminium powder diperoleh melalui pembelian secara daring. Asal-usul bahan, jalur distribusi, serta kemungkinan adanya pihak lain yang membantu proses pembelian maupun perakitan masih menjadi fokus penyelidikan.

Ia juga menegaskan bahwa hingga saat ini situasi di MAN 3 Padang dalam keadaan aman dan kondusif. Tidak terdapat korban jiwa maupun korban luka dalam peristiwa tersebut karena barang yang dicurigai berhasil diamankan sebelum sempat digunakan.

"Kami mengimbau masyarakat agar tidak berspekulasi mengenai kasus ini dan menyerahkan sepenuhnya proses penanganan kepada penyidik. Kami juga mengajak para orang tua, guru, dan seluruh elemen masyarakat untuk meningkatkan pengawasan terhadap aktivitas anak-anak, termasuk penggunaan media sosial dan akses terhadap konten yang mengajarkan pembuatan bahan peledak maupun tindakan berbahaya lainnya," pungkasnya.

Saat ini, penyidik Polresta Padang bersama Densus 88 Antiteror Polri masih melakukan pemeriksaan intensif terhadap pelajar tersebut, mengumpulkan alat bukti, serta mendalami seluruh pengakuan yang disampaikan guna memastikan fakta-fakta yang sebenarnya dalam perkara tersebut. (Hen).