‎Angkat Tradisi “Ngeneng Uyen”, SMKN 1 Taliwang Tampilkan Pesona Budaya Samawa di Pawai Harlah ke-23 KSB ‎

Taliwang, Sumbawa Barat — SMK Negeri 1 Taliwang turut memeriahkan kegiatan pawai budaya yang diselenggarakan Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-23 Kabupaten Sumbawa Barat. Kamis (22/10/2026).

‎Dalam kegiatan tersebut, kontingen SMKN 1 Taliwang tampil dengan mengangkat kekayaan tradisi masyarakat Samawa melalui tema “Ngeneng Uyen”, yang dalam bahasa Indonesia berarti meminta hujan.

‎Penampilan tersebut menjadi salah satu upaya memperkenalkan nilai-nilai budaya lokal kepada masyarakat, khususnya generasi muda. Melalui pawai budaya, para siswa tidak hanya berpartisipasi dalam memeriahkan hari jadi daerah, tetapi juga menunjukkan kepedulian terhadap pelestarian tradisi yang diwariskan oleh para leluhur.

‎Kepala SMK Negeri 1 Taliwang, Muhammad Nasir, S.Pd., M.Pd., menyampaikan bahwa keikutsertaan sekolah dalam pawai budaya merupakan bentuk dukungan terhadap kegiatan pemerintah daerah dalam melestarikan dan mempromosikan kebudayaan lokal.

‎Menurutnya, momentum Harlah ke-23 KSB menjadi kesempatan bagi para pelajar untuk mengenal lebih dekat identitas budaya daerah. Kegiatan tersebut juga dapat menjadi sarana pembelajaran di luar kelas yang menumbuhkan rasa bangga terhadap tradisi dan kearifan lokal.

‎Kontingen SMKN 1 Taliwang memilih tema “Ngeneng Uyen” untuk menampilkan salah satu tradisi budaya Samawa yang berkaitan dengan permohonan turunnya hujan. Tema tersebut diangkat sebagai representasi kearifan lokal masyarakat dalam memaknai hubungan antara manusia, alam, dan kehidupan sosial.

‎“Keikutsertaan SMKN 1 Taliwang dalam pawai budaya ini merupakan bentuk komitmen kami untuk ikut melestarikan budaya daerah. Kami ingin para siswa tidak hanya memahami budaya melalui pembelajaran di sekolah, tetapi juga mengenal dan menampilkannya secara langsung di tengah masyarakat,” ujar Muhammad Nasir.

‎Dalam penampilannya, para siswa mengenakan pakaian adat Sumbawa yang mencerminkan identitas dan kekayaan budaya masyarakat Samawa. Busana tradisional tersebut menjadi bagian penting dari penampilan kontingen sekaligus memperkuat pesan pelestarian budaya yang ingin disampaikan kepada masyarakat.

Tidak hanya menampilkan pakaian adat, kontingen SMKN 1 Taliwang juga menghadirkan tarian yang menggambarkan tradisi pemanggil hujan. Pertunjukan tersebut menjadi daya tarik tersendiri karena mengangkat tema budaya yang memiliki keterkaitan dengan kehidupan masyarakat dan alam.

‎Melalui perpaduan busana adat dan tarian tradisional, para siswa berupaya menyampaikan pesan bahwa kebudayaan daerah merupakan warisan yang perlu dijaga bersama. Penampilan itu juga menjadi ruang bagi generasi muda untuk mengenal beragam bentuk ekspresi budaya yang berkembang di tengah masyarakat Samawa.

‎Muhammad Nasir menjelaskan bahwa keterlibatan siswa dalam kegiatan kebudayaan memiliki nilai pendidikan yang penting. Para siswa dapat belajar tentang kerja sama, kedisiplinan, tanggung jawab, serta keberanian menampilkan potensi diri di hadapan masyarakat luas.

‎Menurutnya, pendidikan tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga perlu membentuk karakter dan menumbuhkan pemahaman terhadap lingkungan sosial serta kebudayaan daerah. Karena itu, kegiatan seperti pawai budaya menjadi salah satu kesempatan untuk memperkaya pengalaman belajar peserta didik.

‎Ia berharap para siswa SMKN 1 Taliwang dapat menjadi generasi yang mampu mengikuti perkembangan zaman tanpa melupakan akar budaya daerahnya. Kemajuan teknologi dan modernisasi, menurutnya, perlu diimbangi dengan kesadaran untuk menjaga identitas lokal sebagai bagian dari kekayaan bangsa.

‎“Generasi muda harus mampu berkembang dan beradaptasi dengan kemajuan zaman, tetapi jangan sampai melupakan budaya sendiri. Tradisi daerah merupakan identitas yang harus kita kenal, pahami, dan lestarikan agar tetap dikenal oleh generasi berikutnya,” ungkapnya.

‎Pengangkatan tema “Ngeneng Uyen” juga menjadi bentuk pengenalan terhadap tradisi Samawa yang memiliki makna sosial dan kultural. Melalui penampilan tersebut, masyarakat diharapkan semakin tertarik untuk mengenal berbagai tradisi lokal yang menjadi bagian dari sejarah dan kehidupan masyarakat Sumbawa.

‎Pawai budaya Harlah ke-23 KSB tidak hanya menjadi ajang hiburan bagi masyarakat, tetapi juga menjadi ruang ekspresi bagi sekolah, komunitas, dan berbagai unsur daerah untuk memperkenalkan kekayaan budaya masing-masing. Partisipasi lembaga pendidikan seperti SMKN 1 Taliwang memperlihatkan pentingnya keterlibatan generasi muda dalam kegiatan pelestarian kebudayaan.

Muhammad Nasir menilai bahwa pelestarian budaya membutuhkan dukungan bersama, baik dari pemerintah, lembaga pendidikan, keluarga, maupun masyarakat. Budaya akan terus hidup apabila diwariskan melalui pengenalan, praktik, dan keterlibatan generasi muda dalam berbagai kegiatan yang relevan.

‎Ia juga berharap kegiatan pawai budaya dapat terus dilaksanakan sebagai bagian dari perayaan hari jadi Kabupaten Sumbawa Barat. Selain memperkuat kebersamaan, kegiatan tersebut dapat menjadi sarana untuk memperkenalkan kekayaan tradisi lokal kepada masyarakat yang lebih luas.

‎Bagi SMKN 1 Taliwang, keikutsertaan dalam pawai budaya menjadi salah satu bentuk kontribusi sekolah dalam mendukung pelestarian kebudayaan daerah. Para siswa memperoleh pengalaman untuk mengekspresikan kreativitas sekaligus memahami pentingnya menjaga warisan tradisi di tengah perkembangan kehidupan modern.

‎Melalui penampilan bertema “Ngeneng Uyen”, SMKN 1 Taliwang berharap nilai-nilai budaya Samawa semakin dikenal dan mendapat perhatian dari generasi muda. Tradisi yang ditampilkan dalam pawai tersebut diharapkan tidak hanya menjadi tontonan dalam perayaan Harlah, tetapi juga mendorong tumbuhnya rasa memiliki terhadap kebudayaan daerah.

‎"Peringatan Harlah ke-23 Kabupaten Sumbawa Barat ini merupakan momentum untuk memperkuat semangat pelestarian budaya sekaligus menanamkan kebanggaan terhadap identitas lokal. Dengan keterlibatan pelajar dalam kegiatan seperti ini, warisan budaya Samawa diharapkan terus dikenal, dihargai, dan diwariskan kepada generasi mendatang," pungkasnya. (Hen).