Wagub NTB Kunjungi SMKN 1 Taliwang Perkuat Budaya Sekolah Aman

Taliwang, Sumbawa Barat – Membangun lingkungan sekolah yang aman dan nyaman tidak cukup hanya dengan melarang tindakan perundungan. Diperlukan kesadaran bersama, keberanian untuk melaporkan kekerasan, serta keterlibatan aktif seluruh warga sekolah dalam menciptakan budaya saling menghormati.

Hal inilah yang menjadi salah satu pesan penting dalam dialog Wakil Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB), Hj. Indah Dhamayanti Putri, bersama siswa SMK Negeri 1 Taliwang, Kabupaten Sumbawa Barat (KSB), Rabu (21/10/2026).

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari sosialisasi pencegahan kekerasan fisik dan seksual serta Pendewasaan Usia Perkawinan (PUP). Melalui dialog interaktif, para pelajar diajak memahami berbagai persoalan yang dapat mengancam keselamatan, kenyamanan, dan masa depan generasi muda, baik di lingkungan sekolah maupun dalam pergaulan sehari-hari.

Kepala SMK Negeri 1 Taliwang, Muhammad Nasir, S.Pd., M.Pd., memandang kegiatan tersebut sebagai langkah penting dalam memperkuat pendidikan karakter di lingkungan sekolah. Menurutnya, pendidikan tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik dan keterampilan kejuruan, tetapi juga harus membentuk peserta didik yang mampu menghargai orang lain, menjaga perilaku, serta bertanggung jawab atas tindakan yang dilakukan.

Nasir menegaskan, sekolah memiliki peran strategis dalam membangun lingkungan belajar yang bebas dari intimidasi, kekerasan, dan perlakuan diskriminatif. Karena itu, pemahaman tentang batasan dalam bercanda, penghormatan terhadap perbedaan fisik, serta kepedulian terhadap kondisi teman sebaya perlu terus ditanamkan kepada para siswa.

“Perundungan tidak boleh dianggap sebagai hal biasa, apalagi berlindung di balik alasan bercanda. Setiap siswa harus memahami bahwa perkataan dan tindakan mereka bisa berdampak terhadap perasaan serta kondisi psikologis orang lain. Sekolah harus menjadi tempat yang aman bagi semua peserta didik untuk belajar dan mengembangkan potensi dirinya,” demikian pesan yang ditekankan dalam upaya membangun budaya sekolah yang positif.

Pentingnya memahami batas antara candaan dan perundungan terlihat dalam sesi tanya jawab antara Wakil Gubernur NTB dan para siswa. Seorang siswi menyampaikan bahwa candaan yang mengarah pada penghinaan fisik, warna kulit, bentuk tubuh, maupun tinggi badan tidak lagi dapat dibenarkan sebagai bentuk humor.

Menurut siswi tersebut, bercanda semestinya menjadi ruang untuk membangun kebahagiaan bersama, bukan menjadikan kondisi fisik seseorang sebagai bahan ejekan. Pandangan ini memperlihatkan bahwa para pelajar mulai memahami pentingnya menjaga perasaan dan menghormati perbedaan di antara sesama.

Pesan serupa disampaikan Bintang Iqbal, siswa kelas XI Teknik Konstruksi dan Perumahan (TKP). Ketika ditanya mengenai alasan perundungan dan kekerasan harus dihentikan, ia menjawab dengan menggambarkan perasaannya apabila anggota keluarganya menjadi korban.

“Saya nggak terima kalau adik saya digituin,” ujar Bintang, yang langsung disambut tepuk tangan peserta dialog.

Jawaban tersebut menggambarkan bahwa empati dapat menjadi dasar sederhana untuk mencegah kekerasan. Dengan membayangkan perasaan orang terdekat ketika menjadi korban, siswa diharapkan mampu memahami bahwa tindakan yang dianggap sepele oleh pelaku dapat meninggalkan luka bagi orang lain.

Selain membangun kesadaran untuk tidak melakukan perundungan, para siswa juga diajak memahami pentingnya mengambil tindakan ketika menyaksikan kekerasan. Wakil Gubernur NTB, Indah Dhamayanti Putri, mengingatkan pengurus Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) agar tidak hanya menjalankan kampanye pencegahan, tetapi juga mengetahui mekanisme pelaporan dan penanganan kasus.

Koordinasi dengan guru bimbingan dan konseling (BK) menjadi salah satu langkah penting ketika siswa menemukan atau mengalami tindakan kekerasan. Perlindungan identitas pelapor juga perlu diperhatikan agar korban maupun saksi tidak merasa takut untuk mencari bantuan. Dengan demikian, keberanian melapor dapat tumbuh tanpa menambah beban bagi mereka yang mengalami persoalan.

Wakil Ketua OSIS SMKN 1 Taliwang, Sofia Indriani, menjelaskan bahwa organisasi siswa memiliki program edukasi mengenai perundungan, kekerasan seksual, dan pernikahan dini. Pelaksanaan program tersebut dapat diperkuat melalui kerja sama dengan Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK-R) yang ada di lingkungan sekolah.

“Kami di program OSIS itu ada program untuk melakukan edukasi tentang bullying, termasuk kekerasan seksual dan pernikahan dini. Karena di sekolah juga ada organisasi PIK-R, jadi bisa melakukan kerja sama dengan PIK-R untuk melakukan edukasi tersebut,” kata Sofia.

Menurut Sofia, edukasi kepada teman sebaya juga dapat dilakukan melalui media sederhana, seperti poster yang dipasang di majalah dinding sekolah. Cara ini menjadi salah satu sarana untuk menyampaikan pesan pencegahan dengan bahasa dan pendekatan yang dekat dengan kehidupan remaja.

Keterlibatan OSIS dan PIK-R diharapkan mampu memperluas jangkauan edukasi, sehingga siswa tidak hanya memperoleh informasi melalui kegiatan formal, tetapi juga dapat saling mengingatkan dalam pergaulan sehari-hari. Pesan mengenai penghormatan terhadap sesama, pencegahan kekerasan seksual, dan bahaya pernikahan dini pun dapat disampaikan secara berkelanjutan.

Dalam kesempatan yang sama, Wakil Gubernur NTB mengingatkan bahwa persoalan kekerasan terhadap anak dan perempuan serta perkawinan anak masih membutuhkan perhatian serius. Kasus yang terungkap belum tentu mencerminkan keseluruhan persoalan, mengingat masih ada korban yang belum berani menyampaikan pengalaman mereka. Oleh karena itu, dukungan terhadap korban dan terciptanya lingkungan yang aman menjadi bagian penting dalam upaya pencegahan.

Wakil Bupati Sumbawa Barat, Hj. Hanipah Musyafirin, S.Pt., M.M.Inov., turut mengajak para pelajar menjauhi narkoba, minuman keras, perundungan, tawuran, dan berbagai bentuk kekerasan. Ia juga menekankan pentingnya keberanian mengatakan tidak terhadap seks bebas, narkoba, serta pernikahan dini yang dapat berdampak pada kesehatan, pendidikan, dan masa depan generasi muda.

Hanipah menilai pendampingan orang tua dan guru sangat dibutuhkan agar remaja memiliki pegangan dalam menghadapi berbagai tantangan pergaulan. Kasih sayang, keteladanan, dan komunikasi yang terbuka menjadi unsur penting dalam membantu anak mengambil keputusan yang tepat serta menjaga diri dari perilaku berisiko.

Bagi SMKN 1 Taliwang, dialog tersebut menjadi momentum untuk memperkuat pemahaman bahwa pencegahan kekerasan merupakan tanggung jawab bersama. Peran kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan, organisasi siswa, orang tua, dan peserta didik perlu berjalan beriringan agar upaya menciptakan sekolah yang aman tidak berhenti pada kegiatan sosialisasi semata.

Melalui edukasi yang berkelanjutan, siswa diharapkan mampu membedakan candaan yang sehat dengan penghinaan, berani menolak segala bentuk kekerasan, serta mengetahui kepada siapa harus meminta pertolongan ketika menghadapi persoalan. Sikap saling menghormati dan kepedulian terhadap sesama diharapkan tumbuh menjadi bagian dari karakter pelajar, baik di sekolah maupun di tengah masyarakat.

Kegiatan ini merupakan bagian dari kunjungan kerja Wakil Gubernur NTB bersama Badan Koordinasi Organisasi Wanita (BKOW) Provinsi NTB di Kabupaten Sumbawa Barat. Kehadiran pemerintah provinsi dan kabupaten dalam dialog bersama pelajar diharapkan semakin memperkuat sinergi dalam melindungi anak, mencegah kekerasan, dan mempersiapkan generasi muda yang sehat, berkarakter, serta mampu meraih masa depan yang lebih baik. (Hen).