Jereweh, Sumbawa Barat — Nama Desa Bree, Kecamatan Brang Rea, Kabupaten Sumbawa Barat (KSB), kembali mencuri perhatian dalam perhelatan budaya Barapan Kebo. Pasangan kerbau “Batu Api” berhasil menyabet juara utama dalam ajang Barapan Kebo Se-Pulau Sumbawa yang digelar di Arena Lang Desa, Desa Belo, Kecamatan Jereweh, Minggu (6/9/2026).
Ajang tersebut menjadi salah satu rangkaian kegiatan dalam memeriahkan peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81 di Kabupaten Sumbawa Barat. Ribuan masyarakat tampak antusias menyaksikan langsung tradisi khas Tana Samawa yang mempertemukan pasangan kerbau tangguh dari berbagai wilayah di Pulau Sumbawa.
Sejak pagi, Arena Lang Desa dipadati masyarakat dan para pecinta Barapan Kebo. Suasana semakin semarak ketika pasangan-pasangan kerbau mulai memasuki gelanggang lumpur untuk menunjukkan kemampuan terbaiknya di hadapan penonton.
Barapan Kebo bukan sekadar perlombaan kecepatan kerbau. Tradisi tersebut menjadi bagian dari kekayaan budaya masyarakat Tana Samawa yang diwariskan secara turun-temurun dan hingga kini masih terus dijaga keberadaannya.
Di tengah arena berlumpur, para joki harus menunjukkan keberanian, keseimbangan dan kemampuan mengendalikan pasangan kerbau. Kerbau-kerbau yang berlaga dituntut mampu melaju cepat melewati lintasan hingga menyentuh saka, yakni tongkat kayu yang menjadi salah satu penentu kemenangan.
Ketua Panitia Pelaksana, Rustam, mengatakan pelaksanaan Barapan Kebo Se-Pulau Sumbawa merupakan bagian dari komitmen masyarakat Sumbawa Barat untuk menjaga warisan leluhur Tana Samawa.
Menurutnya, kegiatan tersebut tidak hanya bertujuan memeriahkan momentum HUT Kemerdekaan RI ke-81, tetapi juga menjadi ruang untuk memperkenalkan dan mempertahankan tradisi lokal di tengah perkembangan zaman.
“Barapan Kebo ini merupakan bentuk komitmen kita bersama dalam melestarikan warisan leluhur Tana Samawa. Kegiatan ini juga menjadi momentum untuk mempererat silaturahmi masyarakat,” ujar Rustam.
Persaingan semakin sengit ketika kompetisi memasuki kategori Gabungan Kelas Formula Cilik. Sejumlah pasangan kerbau tampil dengan kemampuan terbaik dan berusaha mencatatkan waktu tercepat untuk menjadi yang terbaik di kelas tersebut.
Dari persaingan itu, pasangan kerbau Batu Api asal Desa Bree, Kecamatan Brang Rea, KSB, berhasil menunjukkan performa impresif. Batu Api tampil dominan dan berhasil mencatatkan waktu tercepat hingga akhirnya dinobatkan sebagai juara pertama.
Batu Api berhasil mengungguli dua pesaing kuatnya, yakni kerbau Tanjung Mas dari Maronge dan Lembaran Baru dari Tepas. Keberhasilan tersebut sontak disambut sorak-sorai para pendukung dan masyarakat yang menyaksikan jalannya pertandingan.
Kemenangan Batu Api sekaligus mengharumkan nama Desa Bree dalam ajang Barapan Kebo yang mempertemukan peserta dari berbagai daerah di Pulau Sumbawa. Prestasi tersebut menjadi kebanggaan tersendiri bagi tim dan masyarakat yang selama ini memberikan perhatian terhadap tradisi Barapan Kebo.
Atas kemenangan tersebut, tim Batu Api berhak membawa pulang hadiah utama berupa seekor sapi. Namun, bagi tim Batu Api, nilai kemenangan tidak semata-mata diukur dari hadiah yang diperoleh.
Muhammad Afituddin, ST., SH., yang akrab disapa Piet Bungsu, selaku Penasehat Tim Kerbau Barapan Batu Api dari Desa Bree, menyampaikan rasa syukur dan bangga atas keberhasilan tersebut.
Ia mengatakan kemenangan Batu Api merupakan hasil dari kerja keras seluruh anggota tim, termasuk proses perawatan dan persiapan kerbau yang dilakukan secara telaten sebelum mengikuti perlombaan.
“Kemenangan ini adalah buah dari kerja keras dan perawatan telaten seluruh tim di Desa Bree. Namun yang terpenting, ajang Barapan Kebo ini adalah panggung bersama untuk merawat identitas dan kebanggaan budaya Tana Samawa,” ungkap Piet Bungsu.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh warga Desa Bree yang telah memberikan dukungan terhadap tim Batu Api. Menurutnya, semangat kebersamaan masyarakat menjadi salah satu kekuatan penting di balik keberhasilan yang diraih.
Selain menjadi ajang kompetisi, Barapan Kebo juga dinilai memiliki nilai sosial yang kuat. Pertemuan para peserta dari berbagai desa dan kabupaten menjadi ruang untuk membangun silaturahmi serta mempererat hubungan antarmasyarakat.
Keberadaan tradisi tersebut juga menunjukkan bahwa budaya lokal masih memiliki tempat penting di tengah kehidupan masyarakat modern. Perhelatan Barapan Kebo mampu mempertemukan unsur olahraga tradisional, hiburan rakyat, kebersamaan dan pelestarian budaya dalam satu kegiatan.
Piet Bungsu berharap kegiatan serupa dapat terus digelar secara berkelanjutan. Menurutnya, keberlangsungan Barapan Kebo membutuhkan dukungan bersama, baik dari masyarakat maupun pemerintah daerah.
Dukungan tersebut penting agar generasi muda tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga mengenal, memahami dan ikut menjaga tradisi yang menjadi bagian dari identitas masyarakat Tana Samawa.
Pelaksanaan Barapan Kebo Se-Pulau Sumbawa di Arena Lang Desa akhirnya tidak hanya melahirkan pemenang, tetapi juga meninggalkan pesan penting mengenai pentingnya menjaga warisan budaya.
Kemenangan Batu Api dari Desa Bree menjadi salah satu cerita menarik dari perhelatan tersebut. Di balik kecepatan kerbau menaklukkan lintasan lumpur, terdapat kerja keras, kekompakan tim dan kecintaan masyarakat terhadap tradisi leluhur.
"Festival Barapan Kebo Se-Pulau Sumbawa kami harapkan dapat terus berkembang menjadi ruang silaturahmi antardesa dan antarkabupaten sekaligus memperkokoh posisi Kabupaten Sumbawa Barat sebagai salah satu daerah yang konsisten menjaga dan melestarikan kearifan lokal Tana Samawa di tengah arus modernisasi," pungkas Piet Bungsu. (Jul).


